Ana, Antum, Anti, Akhi, Ukhti…

Suatu ketika, seorang Mahasiswa yang gemar mengadakan acara-acara keIslaman di kampus berbincang dengan saya :

“Maz, kenapa yaa, saya kok belum sreg untuk memanggil ikhwan-ikhwan dan  akhwat-akhwat semua dengan panggilan yang lebih Islami. Saya lebih suka memanggil dengan panggilan sampeyan, njenengan, mas A, mbak B dari pada memanggil antum, ana, akhi, ukhti, anti. Bagi saya panggilan seperti kang bisa lebih membuat akrab dalam perbincangan. Apakah ada yang salah dengan diri saya?. Apa memang lidah saya belum terbiasa dengan panggilan dengan bahasa arab tersebut?”

Dilain waktu, seorang ketua Rohis sebuah Fakultas Perguruan Tinggi Negeri di Semarang pernah berucap pada saya ketika awal-awal saya menjadi mahasiwa.

“Mungkin antum belum terbiasa dengan panggilan ana, antum, akhi, ukhti, anti tetapi dengan bergabung di Rohis Insya Allah nanti akan terbiasa dengan panggilan-panggilan seperti itu. Karena memang kita lebih sering menggunakan panggilan tersebut agar jalinan ukhuwah bisa lebih erat lagi”.

Geliat dakwah yang semakin menggeliat membuat panggilan untuk saudara kita harus hijrah kepada kosa kata arab. Seakan panggilan ana, anti, antum , akhi, ukhti menjadi keharusan bagi seorang aktivis. Panggilan tersebut memang awalnya didesain agar jalinan ukhuwah diantara pegiat dakwah semakin lengket.

Dalam perkembangannya, muncul sebuah kesan baru bahwa panggilan ana, anti, antum , akhi, ukhti seakan menjadi jarak pemisah antara kalangan pegiat dakwah dengan kalangan mahasiswa umum. Sehingga terkadang muncul stigma anak-anak rohis khan memanggilnya dengan ana, antum, akhi, ukhti, lha saya memanggil sesama muslim dengan njenengan, sampeyan, kowe, aku, maka tak pantas bagi saya masuk rohis.

Bahkan dalam penggunaannya terjadi perubahan makna, panggilan ikhwan dan akhwat terkadang dikhususkan untuk kalangan tertentu, yang mempunyai pemahaman yang sama. Padahal dari asal muasal kata tersebut berarti saudara laki-laki (ikhwan) dan saudara perempuan (akhwat).

So, jika memang tujuan awal penggunaan istilah akhi, ukhti, antum, anti memang lebih bisa mengakrabkan dan menjalin ukhuwah, maka silahkan dilanjut. Dan disisi lain, bagi yang sudah merasa nyaman dengan penggunaan jenengan, sampeyan, kang, mbak, kowe, aku tak ada salahnya untuk dilanjutkan bila dengan penggunaan bahasa tersebut lebih bisa menjalin ukhuwah. Karena memang halus dan kasarnya bahasa masing-masing daerah berbeda-beda.

Dan yang paling penting tidak ada diskriminasi dan permbedaaan status seseorang dari orang-orang yang memanggil dengan panggilan akhi, ukhti, antum, anti kepada orang-orang yang tetap dengan panggilan jenengan, sampeyan, kang, mbak, kowe, aku. Toh status seorang muslim tidak diukur dari simbol yang dikenakannya, termasuk juga simbol bahasa dalam hal ini. Tetapi diukur dari derajad ketaqwaannya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla

SUMBER

Jangan lupa tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s